Kearifan Lokal Indonesia dalam Wacana Demokrasi dan Toleransi

Masuknya budaya asing yang merupakan sebuah keniscayaan sejak manusia telah mampu meningkatkan peradabannya dan melakukan ekspedisi dari tempat asalnya hingga ke belahan bumi lainnya (Contoh persebaran agama-agama besar di Dunia), seharusnya kearifan lokal harus dapat disinergikan. Dengan demikian akan tetap menjaga kelestarian adat istiadat peninggalan nenek moyang yang juga merupakan budaya bangsaIndonesiayang didalamnya terkandung nilai-nilai luhur dan pengetahuan yang sangat kaya.

Namun seiring berjalannya waktu, nilai-nilai luhur itu mulai meredup, memudar, kehilangan makna substantifnya. Lalu yang tertinggal hanya benda-benda yang menjadi simbol tanpa arti. Bahkan akhir-akhir ini hampir secara keseluruhan mengalami reduksi, dianggap hanya pajangan yang sarat formalitas. Kehadirannya tak lebih untuk komersialisasi dan mengeruk keuntungan atau bahkan diabaikan sama sekali.

Dalam konteks ini globalisasi menunjukkan sebuah pola dominasi dari pihak yang kuat terhadap pihak yang lemah, Negara yang kuat secara politik dan ekonomi menekankan diterimanya pola pikir, gaya hidup, teknologi, makanan, obat-obatan, stimulant, bentuk hiburan dan rekreasi terhadap Negara yang lebih lemah secara kebangsaan.

Dalam hal ini, kearifan lokal seolah tidak diberi ruang dan kehilangan kekuatannya. Selain kurangnya kemampuan masyarakat dalam memaknai secara kreatif dan kontekstual kearifan lokal yang dimilikinya, faktor lainnya adalah pragmatisme dan keserakahan sebagian para pelayan rakyat. Kepentingan pribadi atau kelompok membuka jalan bagi mereka untuk “memanfaatkan” kearifan lokal, dengan menggunakannya secara serampangan, sekaligus secara subtansial menghancur-leburkan nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya. Pada akhirnya, masyarakat luas yang struktur dan hubungannnya masih bersifat patron-client “meneladani” sikap dan perilaku elit mereka. Hal ini jelas kontra produktif dengan Nation and Character Building.

Rekonstruksi kearifan lokal harus segera untuk dilakukan. MasyarakatIndonesiasudah sepatutnya untuk kembali kepada jati diri mereka melalui pemaknaan kembali nilai-nilai luhur budaya mereka. Dalam kerangka itu, upaya yang perlu dilakukan adalah menguak makna substantif kearifan lokal. Pada saat yang sama, hasil rekonstruksi ini perlu disebarluaskan ke dalam seluruh masyarakatIndonesiasehingga menjadi identitas kokoh bangsa, bukan sekadar menjadi identitas suku atau golongan tertentu. Sehingga seluruh komponen bangsa, masing-masing memahami akan makna kebhinnekaan, hal ini menjadikan keterikatan yang kokoh dan indah.

Ilmuwan Antropologi Indonesia khususnya perlu menggali kembali pengetahuan mengenai kearifan lokal yang dimiliki diberbagai tempat di Indonesia yang kaya akan keanekaragaman alam dan budaya, hal itu dapat diangkat menjadi sarana solusi permasalahan dan juga merupakan bagian dari jati diri dan kebanggaan nasional.

Pada kondisi saat ini tidak banyak rakyat yang tahu bahwa di berbagai wilayah Indonesia yang rawan gempa, para leluhur kita memiliki kemampuan membuat rumah anti gempa, di minangkabau misalnya, rumah gadang didesain dengan struktur dimana tiang atau pondasi dari rumah tersebut tidak ditanam ke dalam tanah melainkan diletakkan diatas lempengan batu, sehingga pada saat terjadi gempa, tiang atau pondasi tersebut hanya bergeser dan rumah tidak roboh. Kemudian di Tasikmalaya, Jawa Barat. Terdapat Kampung Naga yang juga memiliki rumah adat tahan gempa. Hal itu terbukti saat gempa berkekuatan 7,3 SR mengguncang Tasikmalaya pada Rabu, 2 September 2009 silam, tak ada satu pun rumah warga Kampung Naga yang roboh atau mengalami kerusakan yang berarti.

Tidak banyak yang tahu bahwa di pedalaman Kalimantanyang membuat pihak penjajah Belanda gentar itu adalah anak sumpit yang beracun. Sebelum berangkat kemedanlaga, prajurit Dayak mengolesi mata anak sumpit dengan getah pohon ipuh atau pohon iren. Dalam kesenyapan, mereka beraksi melepaskan anak sumpit yang disebut damek.

Tak sampai lima menit setelah tertancap anak sumpit pada bagian tubuh mana pun, para serdadu Belanda yang awalnya kejang-kajang akan tewas. Bahkan, bisa jadi dalam hitungan detik mereka sudah tak bernyawa. Sementara, jika prajurit Dayak tertembak dan bukan pada bagian yang penting, peluru tinggal dikeluarkan. Setelah dirawat beberapa minggu, mereka pun siap berperang kembali. Dalam catatan kolonial (Koloniaal verslag), menurut para penjajah melawan mereka (Suku Dayak) sama seperti berperang melawan hantu

Oleh karena itu, Kearifan lokal harus dipahami sebagai bagian dari knowledge. Sehingga ada kebanggaan dan kecintaan terhadap budayanya sendiri. Dengan demikian proses pelestarian dan pengembangan kebudayaan diIndonesia berkembang, generasi muda menjadi mengenal kearifan lokal dari leluhurnya yang kaya akan pengetahuan dan tidak dianggap kuno dan ketinggalan jaman. Pengetahuan mengenai kearifan lokal Negara bangsaIndonesia seharusnya masuk dalam kurikulum dan diajarkan melalui muatan lokal sesuai dengan konteks dan potensi daerahnya masing-masing.

Banyak yang justru bangga dengan mengadopsi teori-teori sistem pendidikan bangsa lain (yang memang sesuai dengan potensi bangsa mereka) tanpa memperhitungkan bahkan cenderung mengabaikan potensi-potensi yang kita miliki sehingga potensi-potensi sumberdaya alam tidak bisa kita manfaatkan secara optimal dan cenderung dikuasai oleh asing. Demikian juga dengan sumberdaya alam, misalnya kekayaan/diversitas flaura dan fauna dan budaya – banyak bangsa asing yang mempelajari tanaman obat, yang menghasilkan formula-formula obat-obat untuk penyakit-penyakit tertentu yang sulit ditemukan obat penyembuhnya. Mereka (bangsa asing) belajar dari sumber hayati dan kearifan lokal (budaya) bangsaIndonesia.

Kegagalan pembangunan pada berbagai negara dan juga daerah karena mengadopsi teori Barat yang sebenarnya tidak tepat dan cenderung menyesatkan. Bahkan, banyak pakar dari negara Barat sendiri yang mengecam keberadaan teori Neoklasik, seperti peraih hadiah nobel ekonomi tahun 1974 Gunnar Myrdal, Amartya Sen (1998), Stiglitz (2002), yang menyatakan penggunaan teori Neoklasik menyebabkan ketimpangan pendapatan, kemiskinan, pengangguran, kerusakan lingkungan dan juga patologi sosial.

Berbagai daerah yang berhasil dalam pembangunan ekonominya karena memperhatikan masalah kearifan lokal. Sebagai misal Kota Solo berhasil dalam menjalankan otonomi daerahnya, karena tetap memperhatikan masalah kearifan lokal. Dalam kasus pemindahan para pedagang kakilima(PKL) di Kecamatan Banjarsari yang sukses dikotaini karena pemimpinnya memakai strategi kebudayaan yang bertumpu kepada kearifan lokal. Di samping mengadakan musyawarah terbuka dengan PKL sampai 54 kali, sebagai cermin pelaksanaan demokrasi yang asli, pemindahannya juga memakai kirab dengan prajurit kraton  dan bawa tumpeng satu per satu sebagai simbol kemakmuran.

Kabupaten Purbalingga yang telah berhasil menumbuh kembangkan kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) karena Pemdanya dalam menjalankan roda pembangunan tetap memperhatikan masalah kearifan lokal. Suksesnya pembangunan pasar Segamas (segitiga emas) sebagai wujud pemberdayaan ekonomi kerakyatan, guna melindungi serangan kedatangan pasar moderen.  Pasar Segamas merupakan pasar terbesar di Jawa Tengah  dan memiliki konsep pasar tradisional moderen. Keberhasilan pembangunan lainnya yang berbasis kearifan lokal sepertinya diadakannya Lumbung Pangan Masyarakat Desa (LPMD) dan pemugaran rumah kurang layak hun (Istiqomah, 2010).  Dari kasus ini terlihat bahwa kesuksesan pembangunan banyak tergantung kepada kreatifitas kepemimpinan dan motivasi mengabdi rakyat, sehingga suara rakyat banyak sebagai cermin suara “Tuhan” tetap diperhatikan, yang berarti masalah kearifan lokal tetap menjadi perhatian.

Kalau penduduk Jepang untuk sembuh dari bencana gempa bumi, tsunami dan juga bahaya radiasi nuklir memakai kerafikan lokal berupa semangat gambaru, Indonesiasebenarnya mempunyainya misalnya ungkapan Jawa yang berbunyi “sepi ing pamrih rame ing gawe” (bekerja keras kurang memperhatikan imbalan) dan juga budaya luhur lainnya seperti kepemimpinannya Ki Hadjar Dewantoro. Konsep modal sosial (social capital) yang lebih tertuju kepada  saling kepercayaan (trust) dan menjadi salah satu bagian kajian ekonomi Kelembagaan, sebenarnya muncul akibat kuatnya tolong menolong dan gotong royong sebagai konsep kearifan lokal Indonesia.  Belum lagi konsep Ki Hadjar Dewantoro yang terkenal dengan N3 (niteni, niru dan nambahi) adalah yang terkenal di Barat dengan bench-marking.

Saat ini isu yang berkembang adalah permasalahan demokrasi dan toleransi yang dalam beberapa waktu terakhir secara sepihak diklaim sebagai milik “barat” dan dipercaya sebagai konsep yang berasal dan dibesarkan di barat yang akan saya coba uraikan selanjutnya.

Benarkah demokrasi dan toleransi milik barat ?

 Demokrasi kerapkali dipandang sebagai gagasan yang khas dari ”barat” dan asing bagi dunia “non-barat”. Simplifikasi secara serampangan ini beberapa waktu terakhir telah seolah memperoleh penegasan dari koalisi pimpinan AS dalam menegakkan sistem pemerintahan demokratis di timur tengah. Namun, sungguh amat naif apabila pertanyaan yang timbul pasca “gelombang demokrasi ketiga” (banyak kalangan menyebutnya demikian) adalah sebuah gagasan imajiner tentang apakah demokrasi tidak sesuai dengan budaya Irak, Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, Yordania atau negara “non-barat” lainnya ? Pertanyaan ini lahir dari pemahaman yang keliru dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi saat ini, mengajukan pertanyaan semacam ini sama saja menegaskan suatu keyakinan bahwa demokrasi memang gagasan murni milik barat dan berawal dan berkembang di barat. Pandangan ini sepenuhnya ganjil dalam memahami dan melihat  sejarah secara keseluruhan. Namun sayangnya, terkadang pandangan semacam inilah yang diusung oleh para demonstran anti-globalisasi atau anti-barat di berbagai belahan dunia saat ini, mereka seperti menegaskan dialektika pemikiran kaum terjajah yang meliputi kekaguman sekaligus kebencian.

Kayakinan mengenai demokrasi khas “barat” ini kerap dikaitkan dengan praktik awal pemungutan suara dan pemilu di Athena, Yunani. Titik awal ini rintisan di Yunani kuno memang penting dan tidak perlu diragukan lagi,  kemudian konsep modern demokrasi cenderung didominasi oleh analisa dan pengalaman Eropa serta Amerika selama beberapa abad terakhir. Tetapi jika lompatan ini disimpulkan bahwa sifat demokrasi itu khas “barat” hal tersebut jelas mengada-ada dan merupakan bentuk pemaksaan secara intelektual.

Dukungan terhadap demokrasi, kebebasan politik, dan toleransi beragama bukanlah ciri historis dari negara atau peradaban manapun di dunia. Tanpa bermaksud menyangkal adanya tokoh-tokoh pengusung demokrasi dalam pemikiran Eropa, namun apabila thesis mengenai demokrasi digunakan untuk menunjukkan kekhasan atau keunggulan dunia “barat” (tanpa bermaksud mengkotak-kotakkan peradaban), sebenarnya ada juga contoh-contoh sejenis dalam kebudayaan lainnya.

Contoh. Kaisar Ashoka di India yang bertekad untuk menjunjung toleransi beragama dan demokrasi pada abad ke 3 SM, ia berpendapat “semua aliran kepercayaan orang lain layak dihormati”. Kemudian kaisar sesudahnya, yaitu Akbar yang membuat aturan serupa sejak 1590-an “tak seorang pun boleh diganggu perihal agama yang diyakininya, dan tiap orang diperkenankan memeluk agama yang sesuai baginya”. Pada saat yang bersamaan inkuisisi justru sedang merajalela di Eropa dan mereka yang dianggap bid’ah masih dibakar di tiang pancang.

Dalam dunia Islam, Fakta historis toleransi juga dapat ditunjukkan melalui Piagam Madinah.Piagam ini adalah satu contoh mengenai prinsip kemerdekaan beragama yang pernahdipraktikkan oleh Nabi Muhamad SAW di Madinah. Di antara butir-butir yang menegaskan toleransi beragama adalah sikap saling menghormati di antara agama yang ada dan tidak saling menyakiti serta saling melindungi anggota yang terikat dalam Piagam Madinah.

Kemudian di Indonesia, Demokrasi di Indonesia berbeda dengan demokrasi yang lahir dan dipaparkan oleh para pemikir atau ilmuwan barat. Demokrasi mereka menekankan pada asas liberalisme dan individualisme (perseorangan), sementara demokrasi Indonesia berdasarkan pada asas kebersamaan yang dilandasi oleh prinsip musyawarah mufakat. Prinsip-prinsip tersebut salah satunya ditunjukkan oleh balai-balai adat yang tersebar di seluruh Indonesia, yang pada masa lalu terdiri dari tempat duduk dari batu-batu yang disusun sejajar memutar diruang terbuka. Hal ini termasuk kearifan lokal di Indonesia yang harus direkonstruksi kembali dalam konteksnya saat ini. Balai-balai yang dibangun pada masa lampau maupun saat ini mencerminkan prinsip musyawarah mufakat sebagai cara-cara yang dilakukan para pimpinan adat untuk memecahkan berbagai permasalahan pada kehidupan masyarakat yang bersangkutan.

Hal ini yang dilakukan di Sampit, Kalimantan Selatan, yang diprakarsai oleh pemerintah daerah bersama dengan pemuka adat yang ada di Sampit.  Toleransi terwujud karena masing-masing pemuka masyarakat menggelorakan kembali semangat hidup bertetangga dan kebersamaan seperti “Seudik serangkuh dayung, dimane bumi diinjak di situ langit di junjung, dimane ranting di patah di situ aie disauh dan lain lubuk lain ikannye”  Hal ini berarti bahwa sejalan merangku dayung, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, dimana ranting dipatah, disitu air disauk.  Lain lubuk lain ikannya.  Falsafah ini digelorakan oleh kelompok suku Melayu dalam menghentikan pertikaian.

Adapun konsepsi toleransi yang ada pada suku Banjar adalah “Waja sampai ka putting, olah babaya”. Yaitu bekerja sampai tuntas dan bahu membahu maju bersama.  Falsafah in i mengamanatkan bahwa pada dasarnya masyarakat suku Banjar mengutamakan sifat kerja sama sehingga suku Banjar dapat hidup berdampingan dengan suku manapun juga.

Konsepsi toleransi etnis bugis adalah “rebba sipatokkang mali si parappe, malilu si pakainge” yang memiliki makna bahwa jika ada diantara mereka yang jatuh (sakit, kena musibah, miskin) maka mereka harus saling angkat, saling membantu dan tolong menolong.  Hidup saling memuliakan, lupa saling mengingatkan.

Konsepsi toleransi suku bangsa dari manado adalah : “Sitou timou tumou tou” yang memiliki makna saling menyokong dan mendamaikan antara satu dengan yang lainnya.

Konsepsi toleransi masyarakat ambon adalah “Gandongge mari beta, Gendong ose jua. Lawa mena haulala” yang memiliki makna bahwa mereka harus saling membantu untuk maju, kemudian ada juga ungkapan masyarakat seperti “pela gandong”, yang artinya adalah saling gotong royong.

Dalam hal ini terlihat harmoni yang menjadi local wisdom Indonesia mengajarkan tentang hubungan yang baik antara sesama manusia, manusia dan alam, serta manusia dan sang pencipta. kearifan lokal memiliki potensi dan kekuatan yang sangat besar untuk menginspirasi sintesis keragaman karakter solusi masalah diIndonesia dan dunia pada umumnya. Dalam bingkai kearifan lokal ini, masyarakat bereksistensi, dan berkoeksistensi satu dengan yang lain.

Dalam banyak hal, kita tidak tidak menyadari kuunggulan bangsa sendiri sehingga tidak mampu menghargainya. Justru bangsa lain yang menghargai potensi bangsa Indonesia. Banyak tradisi khas Indonesia yang kian tergerus zaman. Salah satu tradisi di Kalimantan Tengah yang semakin jarang dilakukan yakni mangenta atau memasak makanan tradisional masyarakat Dayak.Makanan tersebut yakni kenta itu, dulu kerap dibuat nenek moyang Dayak sebagai ungkapan rasa syukur usai memanen padi.. Kenta biasa dimasak masyarakat desa atau kampung beramai-ramai. Biasanya, kegiatan itu dilakukan pada Maret atau April. Mangenta merupakan penerapan kearifan lokal masyarakat Dayak untuk mendahului masa berkembang biaknya tikus, burung, atau serangga pemakan padi. Kini, banyak orangtua yang tak bisa menjelaskan proses mangenta. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang bisa memasak kenta sudah wafat. Karena itu, tak heran jika pengetahuan generasi muda mengenai mangenta terus tergerus zaman. Kemudian perajin rencong yang saat ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai suvenir khas Aceh dibandingkan fungsinya pada masa lalu sebagai senjata tradisional, sehingga makna subtansialnya menjadi hilang dan hanya tinggal benda-benda hampa yang dikomersialisasikan. Demikian juga  Warga pembuat perahu phinisi di Tana Beru, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba mulai lesu. Karena keahliannya kurang dihargai padahal perahu phinisi merupakan salah satu kebanggan nasional Indonesia.

Sumber :

  •      Re-Invensi Antropologi di Era Demokrasi dan Globalisasi, Meutia F Hatta Swasono, Asosiasi Antropologi Indonesia, 21 Juli 2010.
  •      Makna Kearifan Lokal dalam Pembangunan, Purbayu Budi Santosa, Harian Wawasan cetak : 29 Maret 2011
  •      1 Tahun Gempa Padang, Papua Bergoyang, Sosbud, Kompasiana
  •      Identity and Violence : The Illusion of Destiny, Amartya Sen. 2006
  •      http://regional.kompas.com, Sumpit Dayak Lebih Ditakuti daripada Peluru
About these ads

~ oleh rezahusain pada Juni 8, 2011.

5 Tanggapan to “Kearifan Lokal Indonesia dalam Wacana Demokrasi dan Toleransi”

  1. ya sudah saatnya kita gali dan kita ajarkan generasi muda tentang nilai-nilai luhur budaya bangsa sebagai pilar Demokrasi Pancasila

  2. siap ibu guru, profesi anda sangat mulia, saya titip generasi penerus bangsa kita, ajarkan kepada mereka juga. tentu pancasila bukanlah kajian yang usang, karena berasal dari akar budaya bangsa.

    salam hormat

    Reza

  3. terimakasih ! sungguh saya sangat tersanjung, tulisan anda juga sangat membantu saya dalam menggali nilai2 luhur bangsa dan siap saya ajarkan kpd anak didik saya. Smg kita termasuk orang2 yang dimuliakan oleh Alloh Amin!

  4. Terimakasih doanya Ibu Guru,

    tanggung jawab seluruh komponen bangsa utk mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan hanya otak, tapi menjadi bangsa yang berkarakter, amiiin ya rabbal alamiin

  5. Assalamualaikum bapak reza yth videonya sangat bagus anak didikku sangat suka melihatnya, apakah ada video lagi tolong aku dikasih lagi trims Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: